Sunday, June 10, 2007

WANITA INDONESIA : Harapan Baru untuk Pasien Limfoma Agresif

Sebuah studi lanjutan yang menganalisa kesembuhan pasien limfoma non-Hodgkin’s (NHL) yang diterapi oleh obat kanker Rituximab (dipasarkan dengan nama MabThera) telah mengungkap hasil yang menggembirakan.

Analisa dari sebuah uji klinis penting fase III telah menunjukkan bahwa lebih dari setengah (53%) pasien yang diterapi dengan Rituximab tujuh tahun yang lalu hingga saat ini masih hidup dibandingkan dengan 36% dari pasien yang diterapi dengan hanya kemoterapi saja. Ini berarti dari setiap 100 pasien yang mengalami NHL, ada tambahan 17 pasien yang tetap hidup dalam 7 tahun setelah mendapatkan Rituximab.

Analisa ini juga menunjukkan bahwa ada lebih banyak pasien Rituximab yang mengalami remisi dibandingkan dengan pasien yang hanya menjalani kemoterapi (52% vs 29%). Masa remisi berjangka waktu lebih dari 5 tahun umumnya dianggap telah sembuh, sehingga studi ini dengan jelas menunjukkan bahwa penambahan Rituximab pada kemoterapi menyembuhkan lebih banyak pasien dibandingkan dengan penatalaksanaan dengan kemoterapi saja. Manfaat ini tidak memandang umur dan bahkan dapat terlihat pada pasien yang memiliki karakteristik risiko tinggi.

Studi yang diungkap pada pertemuan American Society of Clinical Oncology (ASCO) di Chicago pada 3 Juni 2007 ini menekankan pada unggulnya hasil pengobatan Rituximab pada NHL agresif, penyakit yang telah banyak disembuhkan oleh obat ini.

Analisa jangka panjang ini dengan jelas menunjukkan manfaat Rituximab, dengan kombinasi kemoterapi pada pasien limfoma,” komentar peneliti utama pada studi ini, Prof. Bertrand Coiffier dari Centre Hospitalier Lyon-Sud.
Selain itu, beberapa hasil ini mengonfirmasi bahwa penambahan Rituximab pada terapi memegang peranan yang sangat penting, bahkan pada pasien-pasien usia lanjut karena manfaatnya terlihat di semua kategori umur,” lanjutnya.
"Rituximab terus memperpanjang harapan hidup dan membantu pasien dengan NHL agresif untuk membangun kembali kehidupan mereka,” kata William M. Burns, CEO dari divisi Farmasi Roche.

"Semenjak uji GELA dilakukan tujuh tahun yang lalu, setengah dari pasien Rituximab masih hidup, dan ini membawa harapan kesembuhan bagi ribuan pasien limfoma lainnya,” lanjutnya
Limfoma Non-Hodkin’s (NHL) dialami oleh 1 juta manusia di seluruh dunia. Diperkirakan ada sekitar 360,000 pasien yang meninggal setiap tahunnya karena penyakit ini. Ada sekitar 40% dari pasien NHL saat ini yang menderita linfoma agresif, dan bila tidak segera ditangani, masing-masing dari mereka dapat kehilangan nyawa dalam kurun waktu enam bulan saja.

* Mengenai Studi GELA
Studi ini dilakukan di 86 pusat-pusat kanker di Perancis, Belgia dan Swiss. Sejumlah 398 pasien dianalisa antara Juli 1998 dan Maret 2000. Pasien-pasien antara umur 60 – 80 tahun dengan limfoma yang sebelumnya belum pernah diterapi menerima delapan siklus CHOP setiap 3 minggunya secara acak (197 pasien) atau delapan siklus CHOP + MabThera (Rituximab) yang diberikan pada hari pertama setiap siklusnya (202 pasien). Tujuan utama dari studi ini adalah mengetahui periode bebas penyakit (event-free survival).

* Mengenai Rituximab
Rituximab adalah terapi antibodi yang mengikat protein bernama antigen CD20 pada permukaan sel-B normal dan ganas. Obat ini kemudian menarik kekebalan alami tubuh untuk menyerang dan membunuh sel-sel B yang telah dibidik. Sel induk dari sel-B dalam tulang sumsum memiliki ekspresi antigen CD20 dalam jumlah yang sangat kecil sehingga memudahkan sel-B sehat untuk regenerasi setelah terapi dan kembali ke tingkatan normal dalam kurun waktu beberapa bulan.

Rituximab diindikasikan untuk terapi NHL agresif dan indolen. Obat ini dikenal sebagai Rituxan di Amerika Serikat, Jepang dan Kanada. Sampai saat ini, lebih dari satu juta pasien limfoma di seluruh dunia telah menerima Rituximab dalam terapi mereka.
(HanyaWanita)

No comments: